TIDAR CAMPUR RINTIS JADI KAMPUNG ANGGREK

  • Admin
  • 2019-06-30
  • 290 Views

MAGELANG - Wilayah RW 1 Tidar Campur, Kelurahan Tidar Selatan, Kecamatan Magelang Selatan, Kota Magelang, merintis menjadi Kampung Anggrek 3R (Rukun, Ramah, Rejeki). Keberadaannya menambah daftar kampung bertema di kota ini, setelah ada kampung organik, kampung wisata, kampung anti-narkoba, kampung anti-miras, dan lainnya.

Pengelola Kampung Anggrek 3R, Munadi (44), bercerita, awalnya ia membersihkan pekarangan di belakang rumahnya yang dekat dengan lokasi TPST (tempat pengelolaan sampah terpadu). Tidak hanya membersihkan, ia pun membuat semacam tempat bermain untuk anaknya.

“Lah kok ada mahasiswa atau dosen dari Universitas Muhammadiyah Magelang (UMM) datang berkunjung dan melihat pekarangan yang sudah bersih itu. Lalu berkomentar kalau pekarangan ini cocok dijadikan kebun,” ujarnya di rumahnya.

Persis enam bulan lalu, tim dari UMM kemudian serius menjadikan pekarangan milik Munadi ini sebuah kebun. Tanaman bunga anggrek dipilih untuk dikembangkan di kebun ini, mengingat Kota Magelang tengah menggaungkan anggrek menjadi ikon tanaman kota.

Tim ini pun pergi ke Malang untuk berbelanja bibit anggrek dan membudidayakannya di kebun tersebut. Total ada sekitar 2.000 bibit dikembangkan yang sekarang sudah mulai terlihat besar dan mendekati masa berbunga.

“Awalnya saya hanya mengelola TPST yang berdiri sejak tahun 2016. Sekarang saya berbagi tugas mengelola kebun anggrek juga bersama warga. Khusus kebun anggrek, sampai sekarang biayanya masih swadaya masyarakat,” kata bapak kelahiran Magelang, 25 Juli 1974 itu.

Di atas lahan seluas 900-an meter ini sudah berdiri dua lokasi budi daya anggrek dengan 50-an jenis. Lalu berdiri gasebo untuk tempat istirahat dengan pintu gerbang dari bambu. Dilengkapi pula arena bermain anak dan sangkar burung.

Lokasi sangat berdekatan dengan TPST, bahkan menjadi pintu masuk menuju TPST tersebut. Meski begitu, kebun begitu rindang di bawah aneka jenis pohon dari durian, bambu, hingga sengon. Udara pun sejuk dengan angin bertiup semilir.

“Dekat juga dengan Kali Elo yang bisa dicapai dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak. Lokasinya memang rimbun, sehingga cocok untuk budi daya anggrek. Nilai ekonomisnya juga tinggi. Kalau dijual bisa seharga ratusan ribu per pot. Tapi, sekarang belum kami jual,” jelasnya.

Tanaman anggrek ini belum akan dijual dulu. Tapi, akan dibagikannya cuma-cuma ke warga kampung sebagai tanaman hias di rumah. Paling tidak ada dua anggrek tiap rumah, sehingga kampung ini benar-benar menjadi kampung anggrek.

“Namanya kampung anggrek, tentu setiap rumah harus punya anggrek. Ke depan akan menjadi daya tarik sendiri, selain juga kampung organik dan warna-warni yang sudah lebih dulu berkembang di Tidar Campur,” papar suami dari Apri Subiyati (33) ini.

Dia mengaku sangat bersyukur, karena pihak kelurahan sudah memberi perhatian kepada budi daya anggrek ini. Bahkan, menjadi salah satu poin penting dalam penilaian Evaluasi Perkembangan Desa dan Kelurahan Tingkat Jateng 2019 yang menjadikan Tidar Campur masuk tiga besar Jateng.

“Kami optimis ke depan akan terus berkembang dan maju. Bahkan, bisa menjadi salah satu destinasi wisata baru,” imbuh Munadi. (hms)

ASN Korpri Kota…
Berita
2019-11-20
Raih Opini WTP,…
Berita
2019-11-20
Sigit Tawarkan Investasi…
Berita
2019-11-19
Kota Magelang Borong…
Berita
2019-11-18
Sekda Kota Magelang:…
Berita
2019-11-17
PPDB TK-SD-SMP Di…
Berita
2019-04-22
Pertamina Tukar Gas…
Berita
2018-09-26
Pemkot Magelang Cari…
Berita
2018-08-06
Aplikasi Si Bahenol…
Berita
2018-08-18