RIBUAN WARGA BEREBUT GUNUNGAN GETHUK DAN PALAWIJA PADA PUNCAK PERINGATAN HARI JADI MAGELANG

  • Admin
  • 2018-04-15
  • 270 Views

Magelang - Puncak peringatan Hari Jadi Kota Magelang ke-1112 tahun ini dimeriahkan dengan grebeg gethuk yang berlangsung di tengah alun-alun Magelang, Minggu (15/4/2018). Ribuan warga tampak saling berebut mengambil gethuk maupun palawija yang disusun dalam dua gunungan kakung putri serta 17 gunungan palawija.

Sementara itu, ratusan pasukan bergodo juga tampak mengamankan jalannya kegiatan, mulai dari awal hingga akhir acara. 

Walikota Magelang, Sigit Widyonindito mengatakan, gerebeg gethuk merupakan tradisi yang tiap tahun dilaksanakan dalam memperingati hari jadi.

"Seperti tahun ini, gerebeg gethuk masuk dalam rangkaian pokok kegiatan. Ada dua gunungan, kakung putri yang digerebeg," ujarnya, di sela kegiatan, Minggu (15/4/2018). 

Sigit mengatakan, gethuk dan palawija selalu menjadi bahan pokok yang dikirab dan digrebeg karena memiliki filosofi tersendiri.

"Filosofinya karena keduanya adalah lambang kesejahteraan masyarakat Magelang. Dan palawija ini adalah lambang hasil bumi dimana Magelang dulunya adalah tanah yang memang subur dan bagus," terangnya.

Pada peringatan hari jadi tahun ini, lanjut Sigit, partisipasi dan keterlibatan masyarakat semakin tinggi dan luar biasa.

"Harapan kami, rakyat dapat memaknai hari jadi ini sebagai hari perenungan, introspeksi. Dan semoga ke depan, Kota Magelang semakin maju, rakyat sejahtera dan semakin nyaman," katanya.

Sementara itu, selain gerebeg gethuk, puncak hari jadi juga diramaikan dengan pentas sendratari babat tanah Mantyasih yang terinspirasi cerita sejarah dari Prasasti Poh dan Matyasih tentang asal usul berdirinya Kota Magelang. Kedua prasasti tersebut menceritakan tentang Raja Dyah Balitung yang memerintah Kerajaan Mataram Kuno yang menetapkan Kota Magelang sebagai sebuah daerah merdeka atau perdikan 'Mantyasih'.

Tarian yang melibatkan sekitar 230 penari itu diawali dengan perjalanan masyarakat yang melakukan laku ritual dan menjadikan Kota Magelang sebagai tempat transit. Terjadilah akulturasi budaya dan interaksi dengan warga pendatang. Perekonomian di wilayah itu pun menjadi makmur. Tetapi kondisi itu tak berlangsung lama, semenjak kedatangan gerombolan pengacau 'Kecu Brandal Rampok' yang mengusik ketenangan masyarakat.

Namun masyarakat pun bangkit dan bersatu, mereka membentuk kekuatan dan akhirnya mampu membasmi gangguan keamanan tersebut. Raja Dyah Balitung sebagai raja yang memerintah wilayah akhirnya memberikan kemerdekaan bagi masyarakat Kota Magelang untuk mengelola wilayahnya sendiri dan membebaskan dari pajak. Kemerdekaan itu ditandai dengan Prasasti Mantyasih.

"Tarian yang kami angkat menceritakan tentang bagaimana Kota Magelang berdiri. Kami berlatih sebulan, memadukan musik, drama, koreografi," jelas sutradara sendratari babat tanah Mantyasih, Gepeng Nugroho. (humaspemkotmagelang)

20.676 Pelamar Ikut…
Berita
2020-01-28
Masyarakat Tionghoa Kota…
Berita
2020-01-28
Disdukcapil Punya "Si…
Berita
2020-01-27
Kota Magelang Tuan…
Berita
2020-01-25
Kaum Disabilitas Berbagi…
Berita
2020-01-24
PPDB TK-SD-SMP Di…
Berita
2019-04-22
Pemkot Magelang Cari…
Berita
2018-08-06
Pertamina Tukar Gas…
Berita
2018-09-26
Aplikasi Si Bahenol…
Berita
2018-08-18