TUMBUHAN OBAT TERUS DIKEMBANGKAN UNTUK KESEHATAN MASYARAKAT

  • Admin
  • 2018-10-17
  • 282 Views

Magelang - Indonesia dikenal secara luas sebagai mega center keanekaragaman hayati (biodiversity) terbesar ke-2 di dunia. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia sejak abad ke-163 dengan menggunakan tumbuhan obat-obatan untuk kesehatan.
"Penggunaan tumbuhan obat hingga saat ini juga masih populer di kalangan masyarakat. Diajarkan turun temurun dari orangtua ke generasi berikutnya dan disampaikan secara getok tular dalam lingkungan pergaulan," ujar Wakil Walikota Magelang, Windarti Agustina, dalam sambutannya pada acara Seminar Nasional Tanaman Obat Indonesia ke-55, di Hotel Grand Artos, Rabu (17/10).
Windarti mengatakan, dari waktu ke waktu, tumbuhan obat juga terus didorong untuk mengambil peran dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
"Dari tahun ke tahun, kesadaran masyarakat indonesia untuk hidup lebih sehat semakin meningkat. Hal ini ditunjukkan dari salah satu survei dimana 73% masyarakat Indonesia menempatkan kesehatan pribadi sebagai isu nomor satu dalam kehidupan mereka," ungkap Windarti.
Kondisi ini, kata dia, tidak lepas dari kampanye hidup sehat yang digaungkan oleh berbagai pihak. Juga kemudahan masyarakat untuk mengakses informasi-informasi seputar kesehatan melalui berbagai media. 
"Tidak hanya di Indonesia, gaya hidup sehat juga menjadi tren global. Semakin banyak orang yang mengandalkan tumbuhan obat untuk mencegah dan mengobati penyakit," terangnya.
Terkait dengan seminar nasional yang diselenggarakan oleh Univertitas Negeri Tidar (Untidar) Magelang bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan, menurut Windarti, bisa menjadi kesempatan emas bagi Untidar.
"Kemitraan ini adalah kesempatan emas bagi Untidar untuk memperluas relasi dengan kalangan pemerintahan, akademisi, praktisi, juga para ilmuwan dan peneliti. Memperkaya khazanah keilmuan untuk memantapkan peran perguruan tinggi dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, sebagaimana termaktub dalam tri dharma perguruan tinggi," kata Windarti.
Balitbang Kesehatan Kementerian Kesehatan, Siswanto menambahkan, pengembangan tumbuhan obat dilakukan dari hulu ke hilir.
"Diawali dengan riset etno farmakologi, yakni penelitian terkait dengan tanaman obat yang secara budaya digunakan masyarakat. Biasanya yang menggunakan ini pengobat tradisional (dukun)," terang Siswanto.
Dari situ kemudian dilakukan domestifikasi (penanaman). Karena menanam obat dengan tanaman pangan berbeda.
"Seni menanam obat tidak sama dengan pangan. Kemudian dari situ baru dikembangkan," jelasnya. (hms)

Kota Magelang Tuan…
Berita
2020-01-25
Kaum Disabilitas Berbagi…
Berita
2020-01-24
Dua Motor Diangkut…
Berita
2020-01-24
Umat Kristiani Kota…
Berita
2020-01-22
Terpilih Aklamasi, Joko…
Berita
2020-01-21
PPDB TK-SD-SMP Di…
Berita
2019-04-22
Pemkot Magelang Cari…
Berita
2018-08-06
Pertamina Tukar Gas…
Berita
2018-09-26
Aplikasi Si Bahenol…
Berita
2018-08-18